Menyusun Kurikulum

Ramai dengan kegaduhan implementasi kurikulum 2013, jadi penasaran bagai mana menyusun kurikulum itu, baca baca lagi referensi tentang penyusunan kurikulum, ternyata begini :
Dalam menyusun sebuah kurikulum dapat menggunakan salah satu pengalaman para ahli dibidangnya. Tyler merupakan salah satu ahli dibidang kurikulum. Tyler merumuskan pertanyaan-pertanyaan dasar yang harus dijawab dalam pengembangan kurikulum.
Pertanyaan :
1. “What educational purposes should the school seek to attain?” (tujuan-tujuan pendidikan apa yang seharusnya dicapai oleh sekolah?).
Menurut Tyler, tujuan-tujuan pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara menelaah tiga sumber yaitu: (1) peserta didik itu sendiri; (2) kehidupan masa sekarang di luar lingkungan sekolah; dan (3) pertimbangan para ahli disiplin keilmuan. Tyler menyadari bahwa dengan analisis yang menyeluruh terhadap ketiga sumber tersebut akan menghasilkan aneka tujuan, beberapa diantaranya mungkin saling bertentangan. Oleh karena itu, para ahli kurikulum perlu memilih tujuan-tujuan dengan menggunakan dua “screens” yaitu: filsafat pendidikan dan psikologi belajar. Tyler menyarankan bahwa tujuan hendaknya dirumuskan dalam bentuk dua dimensi yaitu: (1) komponen tingkah laku yang mengidentifikasi pentingnya tingkah laku belajar, misalnya perkembangan cara berpikir efektif, dan (2) komponen materi yang diambil dari disiplin keilmuan.
2. “How can learning experiences be selected which are likely to be useful in attaining these experiences?” (bagaimana pengalaman belajar dapat dipilih yang mungkin berguna dalam pencapaian pengalaman tersebut?). Tyler mengemukakan beberapa prinsip umum yang dijadikan pedoman oleh para perencana kurikulum dalam memilih tujuan. Pertama, pilihlah pengalaman yang memberikan kesempatan anak didik untuk dapat mempraktekkan jenis tingkah laku seperti ditetapkan oleh tujuan. Kedua, pengalaman yang dipilih hendaknya sesuai dengan kemungkinan kemampuan anak didik. Ketiga, anak didik hendaknya dapat memperoleh kepuasan setelah mempraktekkan jenis tingkah laku yang ditetapkan. Terakhir, perlu disadari bahwa pengalaman belajar yang sama yang diberikan kepada seluruh anak didik akan menghasilkan hasil yang berbeda.
3, “How can learning experiences be organized for effective instruction?” (bagaimana pengalaman belajar dapat diorganisasikan untuk pengajaran yang efektif?). Dalam penetapan tentang organisasi kegiatan atau pengalaman belajar, Tyler menyarankan para pengembang kurikulum hendaknya mempertimbangkan tiga kriteria sebagai berikut: “continuity, sequences, and integration”. “Continuity” mengacu kepada pengulangan kegiatan belajar secara vertikal. Maksudnya adalah organisasi pengalaman belajar harus dapat mengembangkan dan memberikan kesempatan secara terus-menerus kepada anak didik dalam mempraktekkan kegiatan tersebut; “sequences” adalah pengalaman belajar harus dapat diurutkan secara lengkap mulai dari awal hingga akhir pencapaian tujuan dan mulai dari yang paling mudah sampai dengan yang paling sulit atau sukar; dan “integration” adalah hubungan secara horizontal diantara urutan pengalaman belajar untuk menjamin keseimbangan tingkah laku yang diinginkan.
4. “How can the effectiveness of learning experiences be evaluated?” (bagaimana keefektifan pengalaman belajar dapat dinilai?). Tyler menyarankan agar dapat mengembangkan penilian dengan alat uji yang “valid and reliable” dan yang didasarkan kepada kurikulum serta hasilnya digunakan untuk menyempurnakan kurikulum.

Unsur-unsur Yang Terlibat Dalam Pengembangan Kurikulum
Unsur-unsur yang terlibat langsung dalam kegiatan pengembangan kurikulum ialah (1) para pengambil keputusan yang terkait dengan penetapan kurikulum (2) para ahli kurikulum, (3) para ahli disiplin keilmuan, (4) para ahli psikologi, dan (5) guru-guru. Sifat keterlibatan mereka dipilih dan ditentukan oleh latar belakang, keterampilan, dan kemampuannya dalam bidang masing-masing.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita

Kurikulum TIK Nasional

Pengembangan Kurikulum untuk pembelajaran TIK, perlu dirancang dengan memperhatikan sebagai berikut:
1. memperkenalkan konsep dasar tentang TIK kepada peserta didik.
2. mempresentasikan TIK pada sekolah menengah dengan cara yang dapat diakses dan berguna dalam kredit kurikulum, misalnya dalam matematika dan sains.
3. menawarkan pembelajaran tambahan pada sekolah menengah yang memungkinkan peserta didik tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang TIK. “Juga mempersiapkan mereka untuk masuk ke dunia kerja atau perguruan tinggi,” lanjutnya.
4. meningkatkan pengetahuan TIK bagi semua peserta didik.
5. meningkatkan sikap/attitude TIK yang baik dan benar.
6. perubahan dan pengembangan rumusan kompetensi TIK (dalam kontek kurikulum 2013 dengan pengembangan KI KD) yang menunjang untuk penguatan logika dan pola berfikir sistematis.
7. melakukan kegiatan pembelajaran TIK seperti tatap muka, online, diskusi, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.
8. melakukan evaluasi yang mencakup konseptual, kapabilitas, keterampilan dan attitude secara holistik.
Hal tersebut menjadi penting mengingat TIK merupakan suatu keniscayaan di abad 21.
Pembelajaran TIK untuk Dikdasmen seyogyanya tidak memaksakan peserta didik untuk berprofesi bidang TIK mengingat bidang minat peserta didik masih heterogen, oleh karena itu TIK diajarkan sebagai pondasi untuk berbagai bidang minat dan profesi. namun bila peserta didik memiliki minat bidang TIK dan berprofesi ahli TIK tentunya perlu dibimbing dan dikembangkan secara khusus.
untuk bisa memiliki pemahaman hal tersebut, perlu dilakukan persamaan persepsi dari guru TIK itu sendiri serta perlu adanya pergeseran paradigma pada guru TIK tersebut.
(fo)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita